Bank Indonesia: Inflasi 2022 Bisa Tembus 6,5%

Gedung BI

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan laju ekspektasi inflasi tahun ini bisa mencapai 6,5% (year on year/yoy). Melonjaknya inflasi salah satunya disebabkan karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menjelaskan ekspektasi inflasi dengan kenaikan harga BBM akan mendorong naiknya tarif angkutan, yang merupakan salah satu indikator di dalam keranjang inflasi dalam negeri.

“Ini menyebabkan ekspektasi inflasi meningkat akhir tahun 6,5%, jauh lebih tinggi dari target inflasi keputusan pemerintah dan BI sebesar 3% plus minus 1%,” jelas Aida dalam Diskusi Publik bertajuk ‘Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, Rabu (28/9/2022).

Adapun, dari data yang dihimpun BI, komponen inflasi dari volatile food atau harga pangan bergejolak berasal dari sektor hortikultura. Namun, Aida tak merinci berapa sumbangan inflasi dari produk hortikultura tersebut terhadap inflasi nasional, yang jelas peningkatan inflasi di sektor ini karena adanya faktor cuaca.

Selain cuaca, faktor fundamental yang mempengaruhi harga komoditas pangan yakni sisi produksi barang antara waktu dan wilayah.

Aida mencontohkan, cabai merah dan cabai rawit di berbagai wilayah pasokan setiap bulannya tidak merata, sehingga ada perbedaan gap produksi yang tidak merata.

“Kadang rendah dan tinggi ini terjadi tahun ini. Sebelum Agustus produksi cabai mengalami penurunan sangat tinggi, sehingga harganya mengalami peningkatan,” jelas Aida.

BI berkomitmen untuk menjaga strategi pengendalian inflasi, tidak hanya menjaga suplai dan demand atau core inflation. Yang terpenting, kata Aida adalah mengendalikan harga pangan bergejolak.

“Kami bersyukur sudah punya tim pengendali inflasi pusat dan tim pengendali inflasi daerah yang tersebar di 542 kabupaten, kota dan provinsi,” jelas Aida.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, peningkatan harga BBM akan memberi tambahan inflasi sebesar 1,8% hingga 1,9%. Dengan demikian, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada akhir tahun 2022 akan lebih dari 6% secara tahunan atau year on year (yoy).

Dengan kondisi ini, Perry memperkirakan inflasi September 2022 bisa mencapai 5,89% yoy. Sedangkan pada Oktober, November, dan Desember, diperkirakan peningkatan inflasi tidak akan terlalu besar dan akan berlanjut melandai atau hanya dari dampak rambatan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*