Pangan & Regenerasi Petani Jadi Tantangan Tak Berujung

Buruh tani padi memanen padi diKawasan persawahan Primeter Selatan, Tangerang, Banten, Kamis (1/3/2018). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga rata-rata Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 5.207,00 per Kg atau turun 3,84 persen dan di tingkat penggilingan Rp 5.305,00 per Kg di Februari 2018. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Ancaman krisis pangan menjadi perhatian berbagai negara, termasuk Indonesia. Peningkatan harga pangan serta ancaman jumlah pasokan menjadi perhatian, serta diperlukan antisipasi dari dalam negeri.

Terlebih, negara produsen pangan di dunia juga menjaga produksinya agar tidak menjual keluar dan difokuskan menjadi pangan lokal. Ini tantangan kita harus menjaga pangan dalam negeri bergantung pada diri sendiri.

Indonesia punya memiliki tantangan tersendiri, yakni berkurangnya jumlah petani dan petani yang mulai menua. Akibatnya, produktivitas pun stagnan, dan akan mempengaruhi jumlah panen.

Selain turunnya jumlah petani dan lahan, kualitas benih pangan juga menjadi kendala, karena kurang adaptif pada perubahan iklim. Kerusakan infrastruktur dan bencana alam juga menjadi perhatian, karena bisa menghambat pemenuhan pangan.

Perubahan iklim sangat mempengaruhi, ada hujan terus menerus, musim basah, ini mempengaruhi produktivitas pangan. Sampai saat ini kita masih berkutat mencari benih yang tahan, karena stabilitas pangan perlu diantisipasi dengan cepat.

Tak henti-hentinya kita perlu berkaca dari fenomena negara lain. Salah satunya Inggris yang dipusingkan dengan harga pangan yang melejit. Kabar terbaru dikutip dari AFP, Beberapa supermarket di Inggris telah memberlakukan batasan pembelian beberapa buah dan sayuran kepada pelanggan.

Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca di Eropa selatan dan Afrika utara yang mengurangi produksi barang tersebut. Inggris dilaporkan telah mengalami kekurangan tomat, yang kini meluas ke buah dan sayuran lainnya, sehingga mendorong langkah pengecer untuk membatasi penjualan.

Kemudian menyusul pula kabar dari petani dan pemasok di Maroko melaporkan kondisi buruk, yakni suhu dingin, hujan lebat dan banjir, dalam beberapa minggu terakhir yang berdampak pada volume produksi.

Di sisi lain, cuaca buruk, yang juga mempengaruhi petani di Spanyol selatan, membuat feri dibatalkan, memperparah masalah pasokan buah dan sayur.

Dengan krisis beberapa produksi pertanian ini berujung pada pembatasan akan berlaku untuk tomat, paprika, mentimun, selada, kantong salad, brokoli, kembang kol, dan raspberry yang dijual di supermarket di negara tersebut.

Memang pada dasarnya setiap negara punya karakteristik dan tantangan tersendiri, jika di Inggris persoalannya adalah cuaca hingga gejolak mahalnya pupuk, Indonesia justru punya masalah lain yang kiranya harus diantisipasi agar produk pertanian dapat terus ada secara berkelanjutan.

Peran petani secara tidak langsung menjadi ujung tombak dalam menjaga ketersediaan pangan, apabila ketersediaan petani secara nasional kian menurun, maka hal tersebut akan berkorelasi positif dengan menurunnya ketahanan pangan nasional.

Menurunnya tenaga kerja petani berdampak terhadap produktivitas pertanian yang akan berpengaruh terhadap keberhasilan pada upaya penjaminan hak atas pangan di Indonesia.

Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada sebanyak 38,7 juta penduduk yang bekerja di sektor pertanian.

Dari angka ini, memang ada penurunan penurunan, namun tren di tahun sebelumnya penurunan juga diiringi dengan penungkatan. Lalu bagaimana jika tidak? inilah ancaman penuaan pada pekerja di sektor pertanian bakal terjadi sebab regenerasi yang terbilamg sulit di Tanah Air.

Petani yang Menua dan ‘Ogah’nya Milenial Jadi Petani

Menyuburkan generasi petani hingga tahun-tahun berikutnya menjadi tantangan tersendiri di negeri Agraris ini.

Dalam catatan CNBC Indonesia, presiden Joko Widodo (Jokowi)pernah mengungkapkan keinginannya profesi petani menjadi sebuah profesi yang menjanjikan dan bisa mensejahterakan. Kepala negara ingin, generasi muda lebih berminat untuk menjadi petani.

Lantas apa yang menyebabkan generasi muda tak mau menggeluti bidang pertanian?

Bidang pertanian tak lagi menarik minat anak muda, khususnya dari generasi Z. Berdasarkan hasil survei Jakpat, hanya 6 dari 100 generasi Z berusia 15-26 tahun yang ingin bekerja di bidang pertanian. Ada sejumlah alasan mengapa banyak generasi Z yang tak ingin bekerja di bidang pertanian.

Lantas benarkah demikian? nyatanya pertanian cukup pelik dilakukan karena membutuhkan modal yang besar dengan hasil usaha tani yang bisa dibilang ‘tebak-tebakan’. Jika hasil usaha tani bagus maka bisa menutupi modal yang bersumber dari hutang di bank ataupun dari pinjaman keluarga.

Namun jika gagal atau setengah gagal maka hasil pendapatan akan habis menutupi sewa lahan (lahan bukan milik sendiri), biaya pupuk, biaya pestisida yang mahal hingga biaya lainnya.

Pada dasarnya ini soal pengembangan sumberdaya manusianya dan fasilitas yang memadai baik dari segi modal usaha tani, pengembangan skill yang tentunya akan menarik gen Z tertarik menggeluti bidang pertanian apalagi industri sedang di landa PHK seperti saat sekarang ini.

Tentunya akan ada banyak generasi yang ingin menggeluti bidang ini namun memang perlu digali lebih lanjut terkait modal yang dimiliki.

Karena perkembangan teknologi sektor pertanian yang cepat perlu diimbangi dengan regenerasi SDM pertanian yang cepat pula. Inilah pentingnya memperkenalkan dunia pertanian kepada generasi muda sejak dini. Tidak hanya milenial, kini pertanian juga menjadi sesuatu yang dekat dengan generasi milenial.

Oleh sebab itu, regenerasi petani masih menjadi tantangan besar yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah agar mampu mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Mengapa demikian?

Regenerasi petani ini kami nilai begitu penting untuk dilakukan melihat alasan dan dampak untuk ketahanan pangan. Regenerasi petani perlu dilakukan karena melihat dari usia petani yang semakin tua ini mengakibatkan penurunan kinerja dalam bidang pertanian.

Semakin terbukanya dunia dan persaingan pasar menyebabkan pelaku yang harus bekerja pada sektor pertanian adalah petani yang produktif dan efisien.

Terlebih, petani berusia lanjut memiliki kinerja dan produktivitas yang rendah. Petani ini juga relatif tertinggal dalam pemanfaatan teknologi di bidang pertanian. Berbeda dengan petani muda yang memiliki sebuah peluang kinerja yang lebih baik dan hasilnya pun lebih produktif serta efisien.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*